Saturday, 3 November 2007

Menjadi Matahari


Matahari yang kita lihat sehari-hari bersinar menerangi bumi, bersinar tanpa lelah sepanjang siang sepanjang waktu. Matahari yang berjarak ratusan juta kilometer dari bumi kita itu selalu diam tanpa banyak ulah sambil tetap membagi panasnya untuk kehidupan di bawah sini. Orang yang susah bersyukur mungkin tidak akan pernah sadar tentang nikmat panas dan cahaya matahari yang diterima secara cuma-cuma itu.

Apa kita manusia bisa menjadi seperti matahari? Tanpa banyak komentar dan tanpa mengharap balasan apa-apa selalu berbuat baik untuk orang lain, selalu berusaha membuat hati mereka yang disekitar kita senang. Menjadi matahari yang menyinari sekitarnya.

Apa manusia bisa menyayangi dan mencintai seseorang tanpa mengharapkan hal yang sama dari seseorang tersebut. Apakah seseorang bisa melihat seseorang yang dipujanya bergandengan tangan berciuman dengan orang lain.

Mencintai disini berarti luas. Bukan hanya kepada pacar, tapi juga kepada teman, sahabat, dan keluarga. Kembali lagi, apa seseorang bisa selalu memiliki energi untuk tetap berbuat baik dan menyenangkan orang-orang disekitarnya yang terkadang tidak peduli untuk berbuat yang sama.

Kok rasanya tidak mungkin ya. Bayangkan sebesar apa hati yang dibutuhkan untuk sampai ke tingkatan bisa mencintai tanpa merasa harus dicintai balik. Bayangkan harus sedekat apa seorang manusia ke tuhannya untuk mencapai tingkatan itu.

Tingkatan menjadi matahari.

(late October 2007, farewell to a lovely friend, until we meet again!)

Sunday, 23 September 2007

Manusia Jakarta di Jalan Raya


Orang bilang, perilaku di jalan raya mencerminkan kebudayaan suatu bangsa. Bangsa yang besar dan maju, pengguna jalan rayanya sopan, sabar, dan mengikuti aturan. Sebaliknya bangsa yang kerdil dan terbelakang ,pengguna jalan rayanya ugal-ugalan, tidak peduli aturan, dan merasa jalanan itu punya bapaknya.

Sayang sekali… kategori nomer dua itu lah yang terlihat di Jakarta.

Coba lihat motor-motor yang tidak pernah mau memberi jalan. Tidak peduli mobil udah motong jalan lebih dari setengah masih aja berusaha terus melaju sampai minggir-minggir ke tepi asal dianya ga berenti. Mobil-mobil juga begitu, sama saja. Menyedihkan sekali pokoknya jalanan di Jakarta. Orang-orang primitif yang baru bisa nyetir motor/mobil. Mereka tidak mengenal sistem satu-satu, saling mengalah memberi jalan. Mereka tidak mengerti konsep itu.

Belum lagi motor-motor yang berjalan di sebelah kiri mobil, dan ketika mobil memberi lampu sen ke kiri dan membelokkan mobil ke arah kiri sedikit, motor-motor itu malah meng-klakson dengan nafsunya sambil melirik ke arah pengemudi mobil seolah-olah berkata “Dasar goblok, berani-beraninya belok kiri, ga tau ini jalan punya babe gue apa??”

Mau membahas bus dan angkot? Bisa makin sakit hati. Bayangkan saja, dengan ukurannya yang hampir sebesar mall itu, pengemudinya mengemudikan busnya seolah-olah dia berada di atas motor. Nyelip sana nyelip sini, tikung sana tikung sini, ngebut, dan tiba-tiba berhenti… di tengah jalan. Angkot? Hampir mirip, bedanya biasanya mereka selalu di pinggir jalan, lumayan lah walaupun tetap menyebalkan.

Taksi? Haha.. ini juga sama saja, mungkin karena mereka merasa berada di jalan hampir sepanjang hari, mereka merasa mengenal jalan itu diluar kepala dan merasa memiliki jalan, sayang merasa memiliki dalam artian yang tidak positif.Mereka TIDAK AKAN memberi jalan ke pengguna jalan lain. Pengecualian ke taksi-taksi yang ada penumpangnya di dalam.

Yang paling bikin miris dan tersenyum kecut adalah perilaku mobil-mobil pribadi yang di kendarai terlalu pelan, tapi begitu ada mobil di depan memberi lampu sen tanda ingin meminta jalan untuk masuk ke jalur mobil lambat itu, mobil itu segera menaikkan kecepatannya sembari membunyikan klakson dan memberi lampu dim. Kalau berhasil menghalau musuh yang datang dari sisi kanan/kiri itu dia akan tersenyum sambil kemudian kembali ke gaya menyetirnya yang lambat. Dan jika dia kecolongan dan jalurnya diambil, mukanya akan merengut sambil menyumpah serapah seolah inilah akhir dunia.

Oiya masih ada lagi, jika ada 1 mobil yang memberi jalan dan berlaku sopan (misalnya memulai pengereman ketika lampu lalu lintas sudah kuning) mobil-mobil dan motor-motor di belakangnya akan mengklakson dengan ganasnya karena mereka tidak terima ada orang yang lebih baik dari mereka. Pokoknya di jalanan Jakarta ini, tidak ada orang yang boleh sok berlaku baik! Itu prinsip dasar kebanyakan pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta.

Satu-satunya harapan adalah dari pengemudi yang berpendidikan tinggi, bapak-bapak kantoran bergaji tinggi dan bertitel keren, atau anak-anak muda SMA & kuliah yang idealis, berpandangan luas jauh kedepan, dan yang kadang-kadang tajir mampus yang untuk melewati weekend bisa clubbing di singapur, atau ibu-ibu socialite yang terbiasa keluyuran ke luar negeri. Di tangan mereka lah harusnya contoh berkendara yang baik bisa dilakukan… Harusnya… tapi sekali lagi… sayang sekali, teori hanyalah teori. Jika berada di jalan mereka akan berubah menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Keganasannya tidak kalah dengan preman terminal yang tidak punya rumah dan hidup dengan memalak supir-supir angkot. Mereka akan menjadi beringas di jalan raya, tidak mengindahkan peraturan dan sambil sesekali membuang sampah ke luar jendela!!!

Hehe.. Bahkan para kaum berpendidikan itu juga… Indonesia ku sayang, kapan nih mau majunya.

(Jakarta, some time early January 2007, trapped in the jungle called road)

Saturday, 15 September 2007

Do the Un-Possible


You wait for years hoping someone will change. Change to the way you want her to be, to satisfy your ego.


But why do you want someone to change? Why would you allow them to be in your life at the first place if you don’t like their attitude? Why bother push them to change? If you’re not comfortable with the way they are, then maybe he/she’s not your type, and definitely not for you.


And then a question rise, can someone really change? Old habit dies hard says the wise man. Maybe it is you who need to change. Be flexible; don’t wait for other to please you. Maybe it is you who need to adapt to someone’s way of life. Changing is something scary for most of us. You can only change if you are bigger than your appearance. Yet not many fits this condition.


If you can’t really change your view of seeing someone, or in other words you can’t change for other, then how do you really expect other to change for you.


It seems that change is not something you can enforce. Someone can say it out loud that he/she will change only for you. It won’t happen. Even if it does happen, what actually happen is that someone becomes something else that he/she feels remorse in doing it. When it’s not from the heart it’s just a matter of time before he/she returns to their old form.


Hence we come to the term “ikhlas”.


A friend told me, “ikhlas” is how you move on. Ikhlas/sincere/ingenuous means willingly accept something and it comes from the heart. Either you stay and ikhlas accepting her as it is OR you go out leave her and ikhlas seeing her with someone else. Broken heart is out of the question, regardless of which one you choose.


At the end of the day, it is an issue of let go or hold on.


(Badde Manors after Istikharah, mid September 2007)

Wednesday, 12 September 2007

Dunia Sudah Gila


KIPI (Konferensi Internasional Pelajar Indonesia) baru saja berakhir, acara yang sangat-sangat menginspirasi saya. Banyak yang saya dapat disana. Tapi kali ini bukan itu yang ingin saya bahas, di acara itu saya kembali bertemu dengan seseorang teman lama yang sempat menghilang beberapa saat. Banyak yang saya bahas bersama seorang teman lama ini, rasanya hampir semua topik kami bicarakan. Termasuk tentu saja, cinta.

Di obrolan ini saya yang mengaku sebagai orang yang berpikiran terbuka, maju, dan mau menerima perubahan mendapat suatu cobaan atas pernyataan saya itu. Karena teman saya ini menyampaikan suatu konsep yang menurut saya sangat tidak masuk akal. Tapi kemudian saya berpikir, apa benar kondisi saat ini memang seperti itu, apa saya yang harus menyesuaikan diri?

Ketika obrolan kami membahas tentang hubungan cinta, saya bercerita tentang hubungan saya dengan pacar saya saat ini, suka dukanya dan segala macamnya. Dia pun begitu.

Ada satu kesamaan antara saya dan teman lama saya ini. Kami berdua pernah mengalami yang namanya pengkhianatan. Dari situ dia bercerita kalau sampai saat ini pun dia masih bisa melihat si mantan sebagai figur seorang pacar yang dia inginkan. Sampai ke poin ini saya masih bisa menerima, karena memang saat ini saya sedang menjalani hubungan dengan seseorang yang memiliki latar belakang mirip. Tapi lalu dia melanjutkan ceritanya.. dia mengeluarkan pernyataan bahwa jauh di dalam hatinya dia ingin menikah dengan mantan yang pernah mengkhianatinya ini. Sampai di poin ini pun saya masih bisa menerima, karena saya tidak merasa ada masalah dengan masa lalu seseorang asalkan dia bisa menunjukkan kalau dia sudah berubah.

Yang tidak bisa saya terima adalah, dia kemudian berkata “Liat aja lah jaman sekarang, mana mungkin sih lo hidup puluhan tahun setia ke satu orang, pasti ada lah saat-saat dimana either elo atau pasangan lo yang akan selingkuh. Dan itu mungkin akan terjadi dalam siklus beberapa tahun sekali. Apa lagi cowok kaya lo, pastilah selingkuh”

WTF?!?

Inti dari pernyataan dia diatas adalah, kenapa dia ingin menikah dengan mantan yang pernah berselingkuh itu adalah karena setelah berselingkuh pun dia masih bisa melihat si mantan dengan tatapan cinta. Jadi jika di masa depan di masa pernikahan dia berselingkuh lagi, teman saya ini akan bisa menerima dan pernikahannya itu tidak akan berakhir dengan perceraian.

Saya lalu berpikir. Apa benar keadaan dalam pernikahan sebobrok itu? Apa benar pasangan kita pasti akan berselingkuh? Apa benar kita lalu harus memaafkan dan melupakan? Jadi jika kita berselingkuh, di jaman sekarang ini itu sudah merupakan hal yang biasa.

Apakah pernikahan hanya suatu simbol ekonomi dimana dua orang yang tadinya jalan sendiri-sendiri lalu bersatu dalam satu rumah dan membangun segala sesuatu secara bersama.

Kalau dipikir-pikir lagi, keadaan pernikahan jaman sekarang ini memang seperti itu. Banyak sekali cerita-cerita tentang perselingkuhan di dalam pernikahan. Banyak yang berakhir dengan perceraian, ada juga yang tetap bertahan, bahkan ada juga istri yang sampai merelakan suaminya beristri lebih dari satu. Terlalu banyak memang cerita-cerita seperti ini. Bahkan di lingkungan persahabatan terdekat pun saya sering sekali mendengar.

Berarti kalau saya memutuskan untuk menikah suatu saat nanti, di hari pertama saya dan calon istri saya mengucapkan sumpah setia, hati juga harus langsung dikuatkan untuk menerima bahwa suatu saat beberapa tahun dari sekarang seseorang yang sangat saya cintai ini akan berselingkuh.

Ga usah nikah aja lah sekalian. Gila apa.

(lovely private lunch @ Mirasa)

Thursday, 16 August 2007

Fix Me, Pls?


Perasaan paling menyesakkan adalah cinta yang terbuang dan tak terbalas. When you love someone but it goes to waste. Itu adalah saat dimana manusia merasa benar-benar tidak berdaya. Apalah yang bisa dilakukan seseorang untuk membuat pujaan hatinya memiliki perasaan yang sama jika memang dari awal tidak ada potensi perasaan untuk menyukai balik? Manusia sekuat apa pun akan hancur di keadaan seperti itu.

Hati yang berharap terlalu optimis, rasa tidak percaya dan penolakan terhadap kenyataan, dia yang paling pesimis dan penakut pun akan berani untuk berpikir keadaan akan berubah suatu saat. Padahal, logika jernih tertunduk kasihan dan berpikiran lain. Tidak mungkin.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk sembuh. Walaupun waktu memiliki kekuatan untuk menyembuhkan segala penyakit hati, tapi kita tidak akan tahu kapan. Mungkin besok, atau mungkin puluhan tahun kemudian.

Selayaknya ruang hati yang terasa sesak. Perasaan yang tidak menyenangkan ini akan terus bersarang di dada sampai ada sesuatu yang mendorong mereka untuk keluar. Sebenarnya, rasa ini tidak sebegitu jeleknya. Hanya perlu pembiasaan. Syukuri saja yang kita miliki saat ini.

Sometimes, you thought you’ve tried your best, still, you don’t succeed. Sometimes you got what you want, when you realize that’s not what you need. When you feel so tired, but somehow you can’t close your eyes, the burden is so heavy it rejects sleeping. You stuck in reverse. You want to go forward, but you can only go backward, go back to that unpleasant memories and hopes, when what you can do is hoping that everything is fixed and brings you forward.

And then you cry. You leave something you can’t replace, you lost something you can’t replace. You love someone who doesn’t love you back. You give all you have, you sacrifice almost everything, but that someone couldn’t give something that you want. Her love. Could it be worse?

Yes, it could, it’s when after all you’re too in love to let it go.


(Insipired by Coldplay – Fix You)

(one sad & boring afternoon at JSK mid December 2006)

Tuesday, 24 July 2007

Mempertahankan Semangat


Salah satu persoalan hidup yang kerap menghampiri kita adalah, kehilangan semangat. Kadang rencana yang disusun sudah sedemikian rapi dan detail. Rencana A, B, bahkan C sudah disusun seandainya ada sesuatu yang berjalan diluar dugaan. Walaupun tentu saja, mengutip perkataan seorang teman, “manusia boleh berencana, Tuhan lah yang menentukan”. Akan ada saat-saat tertentu dimana seolah-olah Tuhan mempermainkan kita dengan menciptakan keadaan dimana semua yang kita rencanakan gagal total. Di saat seperti itu, dimana semua rencana yang disusun tidak lagi relevan dengan kenyataan yang terjadi, manusia pada umumnya akan kehilangan semangat untuk meneruskan tujuan hidupnya.

Padahal kalau semangat terus dipertahankan, masalah apapun yang terjadi akan selalu ada jalan keluarnya. Seharusnya ketika ada sesuatu yang diluar rencana, kita tetap bisa berpikir jernih dengan kepala dingin untuk mempersiapkan langkah-langkah perbaikan agar tujuan bisa tetap tercapai.

Banyak situasi yang dapat mengakibatkan seseorang kehilangan semangat, seperti gagal dalam belajar, gagal dalam percintaan, gagal dalam berbisnis, dan banyak contoh lainnya.

Dalam beberapa kasus, kegagalan, penghinaan, atau ketidakberdayaan adalah pemicu semangat untuk membuktikan sebaliknya. Tapi apa yang terjadi kalau semua itu terjadi berkali-kali dan berturut-turut? Atau kalau semua usaha kita tetap saja tidak berhasil?

Gagal dalam percintaan tidak seharusnya menjadikan seseorang berhenti mencari pasangan yang tepat.

Gagal dalam berbisnis tidak seharusnya menjadikan seseorang berhenti berinovasi dan mencoba.

Gagal dalam belajar tidak seharusnya menjadikan seseorang berhenti belajar.

Semangat adalah kunci dari hampir segala keberhasilan. Hubungan yang memburuk dengan pasangan dapat diperbaiki asal ada semangat untuk berjalan ke arah itu. Perasaan yang memudar dapat dipulihkan asal ada semangat. Godaan dalam bentuk apapun seharusnya dapat ditepis asal ada semangat untuk menjalin hubungan yang sehat dan menyenangkan.

Dalam kasus belajar, belajar yang setengah-setengah dan tidak fokus adalah penyebab kegagalan. Jika sudah gagal, harusnya introspeksi dan lakukan langkah-langkah yang tepat untuk mengembalikan semangat belajar tersebut.

Tapi bagaimana caranya mempertahankan semangat? Tiap individu memiliki cara mereka masing-masing untuk itu. Mungkin kuncinya adalah tetap berpikir positif, dan segera ingat kembali mimpi-mimpi dan gol hidup agar semangat tetap terjaga.

Bagaimanapun, intinya: Semangat! Pasti ada jalan.

(early morning Jakarta. C++ here I come!)

Tuesday, 19 June 2007

Love Me... Love Me Not...


Here is a quick question; can you make someone falling in love with you? Most of us will answer, yes of course, why won’t we?

Yes we can, indeed, but there are a lot of buts. You can only make someone falling in love with you if he/she already has the potential for loving you to begin with. You can try your hardest to make someone to like you, but when it comes to love, you can only try so hard but it will never happen if he/she does not have that potential. Wishful thinking often comes to a person who is in love with someone, you hope for so much, you dream so highly, yet you forget that in this matter there are two people involves, you forget to see that the other guy may not hope the way you hope, may not dream the way you dream.

Men and women have different perception in seeing a relationship. They also have different perception in seeing each other. Men attracted to something sexual. Does not matter how hard they deny it, the fact remain the same, men always see women from their appearance first. Is she good looking, is she has nice breast, is she proportionally pretty, is it possible to get laid with her, and all those kind of questions. After a woman passed one man’s physical criteria, then it goes to the next scanning, it could be anything, from fun to talk with, understanding, etc.

While women, on the other hand, tend to start with something more emotional. Try to talk something fun with her, try to impress her with your sensitivity, dress smart, and those kinds of thing could lead you to win her heart. Although it still counts as the physical appearance, but the approach is different.

Life experiences and mindsets of people are unique to each others. This is what creates the way of seeing other people. Researchers in Durham University, England, has conducted a research on women’s psychology, they found that women is generally, especially those who is having a strong relationship with the father, looking for a life partner who is look a like her father. Even if you have a face of Brad Pitt, you could not get a woman to marry you if she already found another man who is similar to her father. This is just one example of how people’s life experience creates a barrier for his/her self from outside world.

I need to stress this again, at the start of a relationship; people will be fascinated to the physical attraction, if the potential is there, then it will certainly develop into a meaningful, emotional bond.

Often the best way is to establish a sound friendship first. People tend to forget this very foundation of a relationship. It needs time to grow the feeling. You do not make people falling for you. This is a pessimistic way of saying this, but you only wait and see if someone is actually falling for you, you do not make them. If you tired of waiting, then maybe he/she is not meant to be yours.

The general rules are, befriend, treat him/her nicely, show and improve your true self, wait, and see.

(heavily inspired by a writing of unknown author found on the net couple years ago)

Friday, 15 June 2007

Simple Question, Not So Simple Answer

Ketika kita sedang menjalani suatu hubungan, ada yang namanya saling memberi, saling berbagi, saling menjaga. Maksudnya adalah, ketika status pacar kita dapatkan, kita menjadi seseorang yang berharga di kehidupan pasangan kita. Tapi seseorang yang berharga itu sebenarnya tidaklah kita dapatkan dengan sendirinya. Ada proses untuk menjadi seseorang yang berharga. Ketika kita bisa menjadi seseorang yang dibutuhkan pasangan, barulah kita menjadi seseorang yang berharga itu.

Siapa sih yang tidak ingin dibutuhkan oleh pacar? Kita bisa menjadi seseorang yang dibutuhkan dengan jalan selalu siap membantu jika pasangan menghadapi masalah. Ada tiga masalah yang mungkin dihadapi seorang pasangan.

Masalah ini bisa berupa masalah fisik, seperti sakit dan harus dibawa ke rumah sakit, atau sekedar menemani ke dokter, atau masalah fisik lain seperti sedang tidak ada mobil padahal sedang butuh kesuatu tempat, atau di kasus yang ekstrim seperti butuh perlindungan fisik karena diganggu oleh seseorang.

Masalah berikutnya adalah masalah hati, kita harus siap membantu jika hati pasangan kita sedang susah. Harus siap menjadi teman curhat. Kadang dia ingin bercerita tentang masalahnya, dan kitalah yang harus menjadi orang pertama yang siap mendengar. Kadang juga pasangan kita butuh seseorang yang bisa memberikan dia rekomendasi dan arahan terhadap suatu masalah yang dia tidak sanggup hadapi sendiri. Kita lah yang seharusnya disana.

Masalah terakhir adalah masalah kepuasan akan kehadiran kita. Contohnya adalah, jika pasangan kita perlu “shoulder to cry on”, pundak kita lah yang harus ada disana, biarkan dia menangis di pelukan kita, atau sebaliknya ketika dia sedang bahagia. Contoh lainnya seperti, kita harus bisa menjadi seseorang yang bisa dibanggakan pasangan kita di hadapan teman-teman dan keluarganya. Entah itu dilihat dari penampilan fisik kita yang menarik, atau dari pemikiran-pemikiran dan cara berkomunikasi kita yang hebat, atau hal-hal lainnya yang bisa membuat dia berjalan membusungkan dada di depan komunitasnya sambil menggandeng tangan kita. Termasuk di kategori ini tentunya adalah kepuasan dia akan kehadiran kita ketika dia sedang membutuhkan teman di tempat tidur.

Masalah fisik, masalah hati, masalah kepuasan akan kehadiran kita. Jika kita bisa memecahkan masalah-masalah itu, jika kita berusaha keras untuk menjadi seseorang yang bisa berada di tiga masalah itu, jika kita berusaha untuk menjadi yang terbaik, kita menjadi seseorang yang berharga di hidup pasangan kita. Dan apabila pasangan kita juga melakukan hal yang sama, bila dia berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk kita, bisa dibilang sempurnalah suatu hubungan itu. Perhatikan kata-kata “berusaha”, asal kita sudah berusaha, itu sudah cukup, hasil dari usaha itu tidak terlalu penting.

Sekarang pertanyaan utama dari tulisan ini, apa yang bisa kita berikan ke pasangan kita jika kita jauh secara fisik, atau dengan kata lain kita sedang berhubungan jarak jauh dengan pacar.

Apa yang bisa menjadikan kita seseorang yang berharga di mata dia? Dan begitu juga sebaliknya. Mungkin tiga masalah di atas tidak seharusnya dipermasalahkan? Saya sangat percaya selama kita dibutuhkan oleh pasangan, dia akan selalu berada di sisi kita. Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk membuat kita dibutuhkan?

(a long night in Sydney, can’t wait to be home)