Sunday, 23 September 2007

Manusia Jakarta di Jalan Raya


Orang bilang, perilaku di jalan raya mencerminkan kebudayaan suatu bangsa. Bangsa yang besar dan maju, pengguna jalan rayanya sopan, sabar, dan mengikuti aturan. Sebaliknya bangsa yang kerdil dan terbelakang ,pengguna jalan rayanya ugal-ugalan, tidak peduli aturan, dan merasa jalanan itu punya bapaknya.

Sayang sekali… kategori nomer dua itu lah yang terlihat di Jakarta.

Coba lihat motor-motor yang tidak pernah mau memberi jalan. Tidak peduli mobil udah motong jalan lebih dari setengah masih aja berusaha terus melaju sampai minggir-minggir ke tepi asal dianya ga berenti. Mobil-mobil juga begitu, sama saja. Menyedihkan sekali pokoknya jalanan di Jakarta. Orang-orang primitif yang baru bisa nyetir motor/mobil. Mereka tidak mengenal sistem satu-satu, saling mengalah memberi jalan. Mereka tidak mengerti konsep itu.

Belum lagi motor-motor yang berjalan di sebelah kiri mobil, dan ketika mobil memberi lampu sen ke kiri dan membelokkan mobil ke arah kiri sedikit, motor-motor itu malah meng-klakson dengan nafsunya sambil melirik ke arah pengemudi mobil seolah-olah berkata “Dasar goblok, berani-beraninya belok kiri, ga tau ini jalan punya babe gue apa??”

Mau membahas bus dan angkot? Bisa makin sakit hati. Bayangkan saja, dengan ukurannya yang hampir sebesar mall itu, pengemudinya mengemudikan busnya seolah-olah dia berada di atas motor. Nyelip sana nyelip sini, tikung sana tikung sini, ngebut, dan tiba-tiba berhenti… di tengah jalan. Angkot? Hampir mirip, bedanya biasanya mereka selalu di pinggir jalan, lumayan lah walaupun tetap menyebalkan.

Taksi? Haha.. ini juga sama saja, mungkin karena mereka merasa berada di jalan hampir sepanjang hari, mereka merasa mengenal jalan itu diluar kepala dan merasa memiliki jalan, sayang merasa memiliki dalam artian yang tidak positif.Mereka TIDAK AKAN memberi jalan ke pengguna jalan lain. Pengecualian ke taksi-taksi yang ada penumpangnya di dalam.

Yang paling bikin miris dan tersenyum kecut adalah perilaku mobil-mobil pribadi yang di kendarai terlalu pelan, tapi begitu ada mobil di depan memberi lampu sen tanda ingin meminta jalan untuk masuk ke jalur mobil lambat itu, mobil itu segera menaikkan kecepatannya sembari membunyikan klakson dan memberi lampu dim. Kalau berhasil menghalau musuh yang datang dari sisi kanan/kiri itu dia akan tersenyum sambil kemudian kembali ke gaya menyetirnya yang lambat. Dan jika dia kecolongan dan jalurnya diambil, mukanya akan merengut sambil menyumpah serapah seolah inilah akhir dunia.

Oiya masih ada lagi, jika ada 1 mobil yang memberi jalan dan berlaku sopan (misalnya memulai pengereman ketika lampu lalu lintas sudah kuning) mobil-mobil dan motor-motor di belakangnya akan mengklakson dengan ganasnya karena mereka tidak terima ada orang yang lebih baik dari mereka. Pokoknya di jalanan Jakarta ini, tidak ada orang yang boleh sok berlaku baik! Itu prinsip dasar kebanyakan pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta.

Satu-satunya harapan adalah dari pengemudi yang berpendidikan tinggi, bapak-bapak kantoran bergaji tinggi dan bertitel keren, atau anak-anak muda SMA & kuliah yang idealis, berpandangan luas jauh kedepan, dan yang kadang-kadang tajir mampus yang untuk melewati weekend bisa clubbing di singapur, atau ibu-ibu socialite yang terbiasa keluyuran ke luar negeri. Di tangan mereka lah harusnya contoh berkendara yang baik bisa dilakukan… Harusnya… tapi sekali lagi… sayang sekali, teori hanyalah teori. Jika berada di jalan mereka akan berubah menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Keganasannya tidak kalah dengan preman terminal yang tidak punya rumah dan hidup dengan memalak supir-supir angkot. Mereka akan menjadi beringas di jalan raya, tidak mengindahkan peraturan dan sambil sesekali membuang sampah ke luar jendela!!!

Hehe.. Bahkan para kaum berpendidikan itu juga… Indonesia ku sayang, kapan nih mau majunya.

(Jakarta, some time early January 2007, trapped in the jungle called road)

Saturday, 15 September 2007

Do the Un-Possible


You wait for years hoping someone will change. Change to the way you want her to be, to satisfy your ego.


But why do you want someone to change? Why would you allow them to be in your life at the first place if you don’t like their attitude? Why bother push them to change? If you’re not comfortable with the way they are, then maybe he/she’s not your type, and definitely not for you.


And then a question rise, can someone really change? Old habit dies hard says the wise man. Maybe it is you who need to change. Be flexible; don’t wait for other to please you. Maybe it is you who need to adapt to someone’s way of life. Changing is something scary for most of us. You can only change if you are bigger than your appearance. Yet not many fits this condition.


If you can’t really change your view of seeing someone, or in other words you can’t change for other, then how do you really expect other to change for you.


It seems that change is not something you can enforce. Someone can say it out loud that he/she will change only for you. It won’t happen. Even if it does happen, what actually happen is that someone becomes something else that he/she feels remorse in doing it. When it’s not from the heart it’s just a matter of time before he/she returns to their old form.


Hence we come to the term “ikhlas”.


A friend told me, “ikhlas” is how you move on. Ikhlas/sincere/ingenuous means willingly accept something and it comes from the heart. Either you stay and ikhlas accepting her as it is OR you go out leave her and ikhlas seeing her with someone else. Broken heart is out of the question, regardless of which one you choose.


At the end of the day, it is an issue of let go or hold on.


(Badde Manors after Istikharah, mid September 2007)

Wednesday, 12 September 2007

Dunia Sudah Gila


KIPI (Konferensi Internasional Pelajar Indonesia) baru saja berakhir, acara yang sangat-sangat menginspirasi saya. Banyak yang saya dapat disana. Tapi kali ini bukan itu yang ingin saya bahas, di acara itu saya kembali bertemu dengan seseorang teman lama yang sempat menghilang beberapa saat. Banyak yang saya bahas bersama seorang teman lama ini, rasanya hampir semua topik kami bicarakan. Termasuk tentu saja, cinta.

Di obrolan ini saya yang mengaku sebagai orang yang berpikiran terbuka, maju, dan mau menerima perubahan mendapat suatu cobaan atas pernyataan saya itu. Karena teman saya ini menyampaikan suatu konsep yang menurut saya sangat tidak masuk akal. Tapi kemudian saya berpikir, apa benar kondisi saat ini memang seperti itu, apa saya yang harus menyesuaikan diri?

Ketika obrolan kami membahas tentang hubungan cinta, saya bercerita tentang hubungan saya dengan pacar saya saat ini, suka dukanya dan segala macamnya. Dia pun begitu.

Ada satu kesamaan antara saya dan teman lama saya ini. Kami berdua pernah mengalami yang namanya pengkhianatan. Dari situ dia bercerita kalau sampai saat ini pun dia masih bisa melihat si mantan sebagai figur seorang pacar yang dia inginkan. Sampai ke poin ini saya masih bisa menerima, karena memang saat ini saya sedang menjalani hubungan dengan seseorang yang memiliki latar belakang mirip. Tapi lalu dia melanjutkan ceritanya.. dia mengeluarkan pernyataan bahwa jauh di dalam hatinya dia ingin menikah dengan mantan yang pernah mengkhianatinya ini. Sampai di poin ini pun saya masih bisa menerima, karena saya tidak merasa ada masalah dengan masa lalu seseorang asalkan dia bisa menunjukkan kalau dia sudah berubah.

Yang tidak bisa saya terima adalah, dia kemudian berkata “Liat aja lah jaman sekarang, mana mungkin sih lo hidup puluhan tahun setia ke satu orang, pasti ada lah saat-saat dimana either elo atau pasangan lo yang akan selingkuh. Dan itu mungkin akan terjadi dalam siklus beberapa tahun sekali. Apa lagi cowok kaya lo, pastilah selingkuh”

WTF?!?

Inti dari pernyataan dia diatas adalah, kenapa dia ingin menikah dengan mantan yang pernah berselingkuh itu adalah karena setelah berselingkuh pun dia masih bisa melihat si mantan dengan tatapan cinta. Jadi jika di masa depan di masa pernikahan dia berselingkuh lagi, teman saya ini akan bisa menerima dan pernikahannya itu tidak akan berakhir dengan perceraian.

Saya lalu berpikir. Apa benar keadaan dalam pernikahan sebobrok itu? Apa benar pasangan kita pasti akan berselingkuh? Apa benar kita lalu harus memaafkan dan melupakan? Jadi jika kita berselingkuh, di jaman sekarang ini itu sudah merupakan hal yang biasa.

Apakah pernikahan hanya suatu simbol ekonomi dimana dua orang yang tadinya jalan sendiri-sendiri lalu bersatu dalam satu rumah dan membangun segala sesuatu secara bersama.

Kalau dipikir-pikir lagi, keadaan pernikahan jaman sekarang ini memang seperti itu. Banyak sekali cerita-cerita tentang perselingkuhan di dalam pernikahan. Banyak yang berakhir dengan perceraian, ada juga yang tetap bertahan, bahkan ada juga istri yang sampai merelakan suaminya beristri lebih dari satu. Terlalu banyak memang cerita-cerita seperti ini. Bahkan di lingkungan persahabatan terdekat pun saya sering sekali mendengar.

Berarti kalau saya memutuskan untuk menikah suatu saat nanti, di hari pertama saya dan calon istri saya mengucapkan sumpah setia, hati juga harus langsung dikuatkan untuk menerima bahwa suatu saat beberapa tahun dari sekarang seseorang yang sangat saya cintai ini akan berselingkuh.

Ga usah nikah aja lah sekalian. Gila apa.

(lovely private lunch @ Mirasa)