
Matahari yang kita lihat sehari-hari bersinar menerangi bumi, bersinar tanpa lelah sepanjang siang sepanjang waktu. Matahari yang berjarak ratusan juta kilometer dari bumi kita itu selalu diam tanpa banyak ulah sambil tetap membagi panasnya untuk kehidupan di bawah sini. Orang yang susah bersyukur mungkin tidak akan pernah sadar tentang nikmat panas dan cahaya matahari yang diterima secara cuma-cuma itu.
Apa kita manusia bisa menjadi seperti matahari? Tanpa banyak komentar dan tanpa mengharap balasan apa-apa selalu berbuat baik untuk orang lain, selalu berusaha membuat hati mereka yang disekitar kita senang. Menjadi matahari yang menyinari sekitarnya.
Apa manusia bisa menyayangi dan mencintai seseorang tanpa mengharapkan hal yang sama dari seseorang tersebut. Apakah seseorang bisa melihat seseorang yang dipujanya bergandengan tangan berciuman dengan orang lain.
Mencintai disini berarti luas. Bukan hanya kepada pacar, tapi juga kepada teman, sahabat, dan keluarga. Kembali lagi, apa seseorang bisa selalu memiliki energi untuk tetap berbuat baik dan menyenangkan orang-orang disekitarnya yang terkadang tidak peduli untuk berbuat yang sama.
Kok rasanya tidak mungkin ya. Bayangkan sebesar apa hati yang dibutuhkan untuk sampai ke tingkatan bisa mencintai tanpa merasa harus dicintai balik. Bayangkan harus sedekat apa seorang manusia ke tuhannya untuk mencapai tingkatan itu.
Tingkatan menjadi matahari.
(late October 2007, farewell to a lovely friend, until we meet again!)