Wednesday, 7 May 2008

Sales People, Respect Brothers!

Seorang teman bercerita tentang kehidupannya sebagai salesman di luar negeri. Baru saja menjejakkan kaki ke halaman rumah seseorang, yang ternyata bertato dan berbadan besar, terjadilah dialog ini,

“Hey! Are you salesman?”

“No no sir, I’m a customer service respresentative, and…”

“That’s fucking same you moron!”

“It is not sir, if I can have a minute of your time I can explain more…”

“Get out or I’ll shoot you!”

“So basically, what we’re doing is…”

Mengambil shotgun dan mengokangnya

“Get out, NOW!”

“… ok, calm down sir. Sorry to disturb you”

Sekarang jika kita jujur, berapa banyak salesman di hidup kita yang ingin kita tembak dengan shotgun? Banyak dari kita yang tidak bisa meluangkan waktu untuk mendengar penawaran salesman-salesman itu. Mungkin lebih tepatnya tidak mau.

Rasanya tidak ada yang salah dengan prinsip hidup setiap-salesman-harus-mati itu. Prinsip hidup yang sangat mulia, terutama bagi mereka yang waktu adalah uang, yang kehilangan waktu 10 menit adalah berarti kehilangan kontrak kerja senilai miliaran rupiah. Tentunya bagi orang-orang ini salesman adalah tikus penggerogot waktu yang harus di usir.

Tapi pernahkah kita berpikir bahwa setiap dari kita adalah sales person. Paling tidak kita harus bisa menjual diri sendiri. Ingat masa-masa dulu pendekatan ke seseorang yang kita sukai? Kira-kira apa yang kita tawarkan kepada nya? Wajah? Dompet? Mobil? Masa depan? Bukankah itu sama saja dengan menawarkan diri dan berharap seseorang yang kita sukai itu membelinya.

Saya sendiri juga pernah menjadi sales person di Jakarta. Sulitnya minta ampun. Padahal kalau barang ini tidak terjual, perusahaan tempat saya bekerja akan mati. Dan anehnya lagi, barang yang saya tawarkan waktu itu adalah suatu barang yang menurut saya benar-benar berguna dan dengan harga yang tidak masuk akal murahnya. Masalahnya, para manajer marketing/direktur keuangan/owner tempat-tempat usaha yang saya tawarkan barang itu tidak pernah benar-benar membuka telinga mereka dari awal.

Beberapa memang tersenyum dan memberi waktu bicara, 5 menit (huhu.. wtf), tapi dapat dengan jelas terbaca pikiran mereka,

“2 menit lagi, 2 menit lagi, tahan tahan… ngomong apa sih nih orang btw, kangen bgt nih sama istri, pake BH warna apa ya dia skrg.”

Beberapa yang lain bahkan membuka pintu pun tidak.

Akibatnya apa? Perusahaan saya rugi, perusahaan mereka pun rugi. Padahal coba saja mereka mau membuka penutup telinga yang mereka pakai. Yang saya bingung, beberapa dari mereka itu lulusan luar negeri. Kata orang kan, lulusan luar negeri biasanya lebih berpikiran terbuka, berwawasan lebih luas, terbuka dengan ide-ide baru, dan embel-embel lainnya yang mendewakan lulusan luar negeri. Engga tuh ternyata. Sama aja kok. Sama aja kaya pemikirannya dengan redneck yang saya ilustrasikan di awal.

Bersikap baik lah terhadap salesman. Kalau memang tidak ada waktu, ambil brosurnya, kalau ada waktu, dengarkan dia bicara. We’re all sales people afterall. Be nice to other sales people won’t do you any harm.

Hmm.. kecuali mungkin terhadap tele-marketer.


(December 2006, the legendary Kelilink sales forces just started its marketing campaign for the 1st time)

Semua Menang, Semua Senang, Semua Senang Menang

Salah satu dari banyak definisi sempit tentang menang adalah mendapatkan apa yang kita inginkan dari seseorang. Kadang-kadang sesuatu yang kita inginkan, dapat menyakiti orang lain. Dan jika kasusnya seperti itu, terjadilah suatu pertarungan antara kita, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dan orang lain, yang ingin mempertahankan apa yang dimilikinya.

Itu adalah insting dasar setiap manusia. Insting primitif yang ada di tiap manusia, bahkan di mereka yang mengaku manusia paling modern sekalipun. Tidak ada satupun manusia yang suka kalah. Perasaan merasa kalah itu adalah sesuatu yang mengesalkan dan jika tidak dilampiaskan entah apa yang bisa terjadi. Masalahnya tidak selalu perasaan kesal itu bisa terlampiaskan dengan positif.

Misalnya, seseorang tertarik dengan seorang perempuan. Masalahnya, perempuan itu adalah pacar orang lain. Jika hal ini diteruskan, akan ada pihak yang terebut pacarnya dan pihak yang merebut pacar orang. Pihak yang menang dan pihak yang kalah.

Pola pikir kita pada umumnya adalah, di keadaan seperti ini, harus ada yang menang. Dan jika ada yang menang, otomatis ada pula yang kalah. Di keadaan yang ekstrim, hal seperti ini bisa berujung seperti kasus pembunuhan yang banyak kita tonton di TV.

Bisa tidak ya ada keadaan dimana 2 pihak yang berseteru itu sama-sama menang. Atau paling tidak, sama-sama merasa menang. Di contoh diatas, pihak yang merebut tentu saja merasa menang. Tapi pihak yang direbut pacarnya juga bisa merasa menang karena dengan segala pikiran positif, dia bisa saja berpikir sudah saatnya meninggalkan pacar yang tidak setia itu, atau bisa juga misalnya berpikir bahwa pacarnya itu akan membuat hidup orang yang merebut itu menderita.

Butuh dua unsur untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Yang pertama adalah kebesaran hati pihak yang kalah untuk bisa menerima dan mengambil sisi positif dari apa yang terjadi. Dan yang kedua adalah kemampuan dari pihak yang menang untuk bisa memenangkan kompetisi tanpa membuat yang kalah merasa kalah.

Seorang pendebat yang hebat dapat memenangkan suatu argumen tanpa membuat lawan bicaranya merasa kalah. Disini dia menawarkan suatu solusi yang bersifat win-win. Dan seorang pendebat yang LEBIH hebat lagi adalah mereka yang dapat menerima argumen lawan bicaranya jika memang hal itu terdengar lebih masuk akal.

(late April 2008, for the 99th time lost in words against that sweet baby)