Orang bilang, perilaku di jalan raya mencerminkan kebudayaan suatu bangsa. Bangsa yang besar dan maju, pengguna jalan rayanya sopan, sabar, dan mengikuti aturan. Sebaliknya bangsa yang kerdil dan terbelakang ,pengguna jalan rayanya ugal-ugalan, tidak peduli aturan, dan merasa jalanan itu punya bapaknya.
Sayang sekali… kategori nomer dua itu lah yang terlihat di Jakarta.
Coba lihat motor-motor yang tidak pernah mau memberi jalan. Tidak peduli mobil udah motong jalan lebih dari setengah masih aja berusaha terus melaju sampai minggir-minggir ke tepi asal dianya ga berenti. Mobil-mobil juga begitu, sama saja. Menyedihkan sekali pokoknya jalanan di Jakarta. Orang-orang primitif yang baru bisa nyetir motor/mobil. Mereka tidak mengenal sistem satu-satu, saling mengalah memberi jalan. Mereka tidak mengerti konsep itu.
Belum lagi motor-motor yang berjalan di sebelah kiri mobil, dan ketika mobil memberi lampu sen ke kiri dan membelokkan mobil ke arah kiri sedikit, motor-motor itu malah meng-klakson dengan nafsunya sambil melirik ke arah pengemudi mobil seolah-olah berkata “Dasar goblok, berani-beraninya belok kiri, ga tau ini jalan punya babe gue apa??”
Mau membahas bus dan angkot? Bisa makin sakit hati. Bayangkan saja, dengan ukurannya yang hampir sebesar mall itu, pengemudinya mengemudikan busnya seolah-olah dia berada di atas motor. Nyelip sana nyelip sini, tikung sana tikung sini, ngebut, dan tiba-tiba berhenti… di tengah jalan. Angkot? Hampir mirip, bedanya biasanya mereka selalu di pinggir jalan, lumayan lah walaupun tetap menyebalkan.
Taksi? Haha.. ini juga sama saja, mungkin karena mereka merasa berada di jalan hampir sepanjang hari, mereka merasa mengenal jalan itu diluar kepala dan merasa memiliki jalan, sayang merasa memiliki dalam artian yang tidak positif.Mereka TIDAK AKAN memberi jalan ke pengguna jalan lain. Pengecualian ke taksi-taksi yang ada penumpangnya di dalam.
Yang paling bikin miris dan tersenyum kecut adalah perilaku mobil-mobil pribadi yang di kendarai terlalu pelan, tapi begitu ada mobil di depan memberi lampu sen tanda ingin meminta jalan untuk masuk ke jalur mobil lambat itu, mobil itu segera menaikkan kecepatannya sembari membunyikan klakson dan memberi lampu dim. Kalau berhasil menghalau musuh yang datang dari sisi kanan/kiri itu dia akan tersenyum sambil kemudian kembali ke gaya menyetirnya yang lambat. Dan jika dia kecolongan dan jalurnya diambil, mukanya akan merengut sambil menyumpah serapah seolah inilah akhir dunia.
Oiya masih ada lagi, jika ada 1 mobil yang memberi jalan dan berlaku sopan (misalnya memulai pengereman ketika lampu lalu lintas sudah kuning) mobil-mobil dan motor-motor di belakangnya akan mengklakson dengan ganasnya karena mereka tidak terima ada orang yang lebih baik dari mereka. Pokoknya di jalanan Jakarta ini, tidak ada orang yang boleh sok berlaku baik! Itu prinsip dasar kebanyakan pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta.
Satu-satunya harapan adalah dari pengemudi yang berpendidikan tinggi, bapak-bapak kantoran bergaji tinggi dan bertitel keren, atau anak-anak muda SMA & kuliah yang idealis, berpandangan luas jauh kedepan, dan yang kadang-kadang tajir mampus yang untuk melewati weekend bisa clubbing di singapur, atau ibu-ibu socialite yang terbiasa keluyuran ke luar negeri. Di tangan mereka lah harusnya contoh berkendara yang baik bisa dilakukan… Harusnya… tapi sekali lagi… sayang sekali, teori hanyalah teori. Jika berada di jalan mereka akan berubah menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Keganasannya tidak kalah dengan preman terminal yang tidak punya rumah dan hidup dengan memalak supir-supir angkot. Mereka akan menjadi beringas di jalan raya, tidak mengindahkan peraturan dan sambil sesekali membuang sampah ke luar jendela!!!
Hehe.. Bahkan para kaum berpendidikan itu juga… Indonesia ku sayang, kapan nih mau majunya.
(Jakarta, some time early January 2007, trapped in the jungle called road)
1 comment:
well, sama aja sih kalo di Indonesia mau orang berpendidikan atau enggak.. lucunya, saya termasuk yang gak pernah melanggar aturan loh, setelah mengalami beberapa kali benturan dan kecelakaan di masa ugal2an di SMA, haha.. skrg mah udah tobat, cuma yah itu kalo yang tobat cuma dikit apa hasilnya, masih banykan yang gak tobat..
salam kenal juga spasi, makasih yah linknya waktu itu, I appreciate that.. sering2 mampir kawan.. hehe
Post a Comment