Wednesday, 7 May 2008

Semua Menang, Semua Senang, Semua Senang Menang

Salah satu dari banyak definisi sempit tentang menang adalah mendapatkan apa yang kita inginkan dari seseorang. Kadang-kadang sesuatu yang kita inginkan, dapat menyakiti orang lain. Dan jika kasusnya seperti itu, terjadilah suatu pertarungan antara kita, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dan orang lain, yang ingin mempertahankan apa yang dimilikinya.

Itu adalah insting dasar setiap manusia. Insting primitif yang ada di tiap manusia, bahkan di mereka yang mengaku manusia paling modern sekalipun. Tidak ada satupun manusia yang suka kalah. Perasaan merasa kalah itu adalah sesuatu yang mengesalkan dan jika tidak dilampiaskan entah apa yang bisa terjadi. Masalahnya tidak selalu perasaan kesal itu bisa terlampiaskan dengan positif.

Misalnya, seseorang tertarik dengan seorang perempuan. Masalahnya, perempuan itu adalah pacar orang lain. Jika hal ini diteruskan, akan ada pihak yang terebut pacarnya dan pihak yang merebut pacar orang. Pihak yang menang dan pihak yang kalah.

Pola pikir kita pada umumnya adalah, di keadaan seperti ini, harus ada yang menang. Dan jika ada yang menang, otomatis ada pula yang kalah. Di keadaan yang ekstrim, hal seperti ini bisa berujung seperti kasus pembunuhan yang banyak kita tonton di TV.

Bisa tidak ya ada keadaan dimana 2 pihak yang berseteru itu sama-sama menang. Atau paling tidak, sama-sama merasa menang. Di contoh diatas, pihak yang merebut tentu saja merasa menang. Tapi pihak yang direbut pacarnya juga bisa merasa menang karena dengan segala pikiran positif, dia bisa saja berpikir sudah saatnya meninggalkan pacar yang tidak setia itu, atau bisa juga misalnya berpikir bahwa pacarnya itu akan membuat hidup orang yang merebut itu menderita.

Butuh dua unsur untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Yang pertama adalah kebesaran hati pihak yang kalah untuk bisa menerima dan mengambil sisi positif dari apa yang terjadi. Dan yang kedua adalah kemampuan dari pihak yang menang untuk bisa memenangkan kompetisi tanpa membuat yang kalah merasa kalah.

Seorang pendebat yang hebat dapat memenangkan suatu argumen tanpa membuat lawan bicaranya merasa kalah. Disini dia menawarkan suatu solusi yang bersifat win-win. Dan seorang pendebat yang LEBIH hebat lagi adalah mereka yang dapat menerima argumen lawan bicaranya jika memang hal itu terdengar lebih masuk akal.

(late April 2008, for the 99th time lost in words against that sweet baby)

No comments: