Seorang teman bercerita tentang kehidupannya sebagai salesman di luar negeri. Baru saja menjejakkan kaki ke halaman rumah seseorang, yang ternyata bertato dan berbadan besar, terjadilah dialog ini,
“Hey! Are you salesman?”
“No no sir, I’m a customer service respresentative, and…”
“That’s fucking same you moron!”
“It is not sir, if I can have a minute of your time I can explain more…”
“Get out or I’ll shoot you!”
“So basically, what we’re doing is…”
Mengambil shotgun dan mengokangnya
“Get out, NOW!”
“… ok, calm down sir. Sorry to disturb you”
Sekarang jika kita jujur, berapa banyak salesman di hidup kita yang ingin kita tembak dengan shotgun? Banyak dari kita yang tidak bisa meluangkan waktu untuk mendengar penawaran salesman-salesman itu. Mungkin lebih tepatnya tidak mau.
Rasanya tidak ada yang salah dengan prinsip hidup setiap-salesman-harus-mati itu. Prinsip hidup yang sangat mulia, terutama bagi mereka yang waktu adalah uang, yang kehilangan waktu 10 menit adalah berarti kehilangan kontrak kerja senilai miliaran rupiah. Tentunya bagi orang-orang ini salesman adalah tikus penggerogot waktu yang harus di usir.
Tapi pernahkah kita berpikir bahwa setiap dari kita adalah sales person. Paling tidak kita harus bisa menjual diri sendiri. Ingat masa-masa dulu pendekatan ke seseorang yang kita sukai? Kira-kira apa yang kita tawarkan kepada nya? Wajah? Dompet? Mobil? Masa depan? Bukankah itu sama saja dengan menawarkan diri dan berharap seseorang yang kita sukai itu membelinya.
Saya sendiri juga pernah menjadi sales person di Jakarta. Sulitnya minta ampun. Padahal kalau barang ini tidak terjual, perusahaan tempat saya bekerja akan mati. Dan anehnya lagi, barang yang saya tawarkan waktu itu adalah suatu barang yang menurut saya benar-benar berguna dan dengan harga yang tidak masuk akal murahnya. Masalahnya, para manajer marketing/direktur keuangan/owner tempat-tempat usaha yang saya tawarkan barang itu tidak pernah benar-benar membuka telinga mereka dari awal.
Beberapa memang tersenyum dan memberi waktu bicara, 5 menit (huhu.. wtf), tapi dapat dengan jelas terbaca pikiran mereka,
“2 menit lagi, 2 menit lagi, tahan tahan… ngomong apa sih nih orang btw, kangen bgt nih sama istri, pake BH warna apa ya dia skrg.”
Beberapa yang lain bahkan membuka pintu pun tidak.
Akibatnya apa? Perusahaan saya rugi, perusahaan mereka pun rugi. Padahal coba saja mereka mau membuka penutup telinga yang mereka pakai. Yang saya bingung, beberapa dari mereka itu lulusan luar negeri. Kata orang kan, lulusan luar negeri biasanya lebih berpikiran terbuka, berwawasan lebih luas, terbuka dengan ide-ide baru, dan embel-embel lainnya yang mendewakan lulusan luar negeri. Engga tuh ternyata. Sama aja kok. Sama aja kaya pemikirannya dengan redneck yang saya ilustrasikan di awal.
Bersikap baik lah terhadap salesman. Kalau memang tidak ada waktu, ambil brosurnya, kalau ada waktu, dengarkan dia bicara. We’re all sales people afterall. Be nice to other sales people won’t do you any harm.
Hmm.. kecuali mungkin terhadap tele-marketer.
(December 2006, the legendary Kelilink sales forces just started its marketing campaign for the 1st time)
No comments:
Post a Comment