Saturday, 6 June 2009
How To Survive
"Do you think we can outrun the bear?" one friend asked.
To which his friend replied, "I don't have to outrun the bear. I only have to outrun you."
(From Conspiracy of the Rich by Robert Kiyosaki, early June 2009 studying for the final of final exams)
Sunday, 24 May 2009
Quarterly Life Crisis
How old are you folks? Well, I am 25. Means, I’ve been living for a quarter of century. It’s been an enjoyable journey, with everything supported by my parent. It is so fortunate for me to have parent who is really understanding of my passion in business (and with that supported it financially), I could easily establish my own company even in my uni time. They also unbelievably have this modern view in every way of life. Not all parent would have that quality, I see some of my friends having a hard times just to meet their girlfriend/boyfriend, some even racistly forbid their son/daughter to be in a relationship with person who poses some criterions, like certain races or certain religions.
I would love it so much if I could stay in that comfort zone forever. But as life goes on, the reality slaps me hard on the face. At 25, I’ll very soon graduate, I’ll have this Master degree with me, with very little work experience (because I was stubbornly chose to play with my business during study, rather than tried to find a part-time corporate job), I have this stunningly gorgeous girlfriend who consistently hinting about marriage, a dad who insist on me finding work in Australia for 5 years before returning for good, and finally, 40ish rejected job application with none were even made it to the interview.
Suddenly the future looks gloomy and remembering those glorious past do not make it better. A friend said that I’m in a so-called quarterly life crisis, an era that everyone ought to enjoy for once in their life. One thing she did not understand though is that these past 2 years (2008 and 2009) are not the best time to graduate. With global economic crisis hitting hard even the resilient Australian economy, finding job is one hell of a job by itself, not to mention if you are a fresh graduate, with little work experience. There is no guarantee next year will be better, although I strongly hope for one. Even if next year is better, what am I gonna do for this one year? Even if next year is better, will there be enough job available for everyone? Even if next year is better, who will know if I’ll stay sane?
Blaming God won’t be wise either; I wasn’t really faithfully obeying His rules all this time anyway. But I think I’ll start looking for answer in Him, Allah the most merciful will surely lead me the way.
So typical of human, eh? Well, I guess that’s why we are called that way, human.
A recipe for disaster is when you mixed a bowl of quarterly-life crisis with a gallon of global financial crisis. Although a healthy dose of self-confident mixed with a little bit of pessimism while pouring positive attitude generously will give you relief even if only for a bit.
(Sydney late May 2009, writing this non-sense instead of writing a cover letter)
Monday, 18 May 2009
Garam, Gelas, Danau

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru.
“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya. “Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam, mendengarkan.
“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”
(From : http://ekojuli.wordpress.com)
(mid-May 2009, finishing degree, new problems)
Wednesday, 7 May 2008
Sales People, Respect Brothers!
Seorang teman bercerita tentang kehidupannya sebagai salesman di luar negeri. Baru saja menjejakkan kaki ke halaman rumah seseorang, yang ternyata bertato dan berbadan besar, terjadilah dialog ini,
“Hey! Are you salesman?”
“No no sir, I’m a customer service respresentative, and…”
“That’s fucking same you moron!”
“It is not sir, if I can have a minute of your time I can explain more…”
“Get out or I’ll shoot you!”
“So basically, what we’re doing is…”
Mengambil shotgun dan mengokangnya
“Get out, NOW!”
“… ok, calm down sir. Sorry to disturb you”
Sekarang jika kita jujur, berapa banyak salesman di hidup kita yang ingin kita tembak dengan shotgun? Banyak dari kita yang tidak bisa meluangkan waktu untuk mendengar penawaran salesman-salesman itu. Mungkin lebih tepatnya tidak mau.
Rasanya tidak ada yang salah dengan prinsip hidup setiap-salesman-harus-mati itu. Prinsip hidup yang sangat mulia, terutama bagi mereka yang waktu adalah uang, yang kehilangan waktu 10 menit adalah berarti kehilangan kontrak kerja senilai miliaran rupiah. Tentunya bagi orang-orang ini salesman adalah tikus penggerogot waktu yang harus di usir.
Tapi pernahkah kita berpikir bahwa setiap dari kita adalah sales person. Paling tidak kita harus bisa menjual diri sendiri. Ingat masa-masa dulu pendekatan ke seseorang yang kita sukai? Kira-kira apa yang kita tawarkan kepada nya? Wajah? Dompet? Mobil? Masa depan? Bukankah itu sama saja dengan menawarkan diri dan berharap seseorang yang kita sukai itu membelinya.
Saya sendiri juga pernah menjadi sales person di Jakarta. Sulitnya minta ampun. Padahal kalau barang ini tidak terjual, perusahaan tempat saya bekerja akan mati. Dan anehnya lagi, barang yang saya tawarkan waktu itu adalah suatu barang yang menurut saya benar-benar berguna dan dengan harga yang tidak masuk akal murahnya. Masalahnya, para manajer marketing/direktur keuangan/owner tempat-tempat usaha yang saya tawarkan barang itu tidak pernah benar-benar membuka telinga mereka dari awal.
Beberapa memang tersenyum dan memberi waktu bicara, 5 menit (huhu.. wtf), tapi dapat dengan jelas terbaca pikiran mereka,
“2 menit lagi, 2 menit lagi, tahan tahan… ngomong apa sih nih orang btw, kangen bgt nih sama istri, pake BH warna apa ya dia skrg.”
Beberapa yang lain bahkan membuka pintu pun tidak.
Akibatnya apa? Perusahaan saya rugi, perusahaan mereka pun rugi. Padahal coba saja mereka mau membuka penutup telinga yang mereka pakai. Yang saya bingung, beberapa dari mereka itu lulusan luar negeri. Kata orang kan, lulusan luar negeri biasanya lebih berpikiran terbuka, berwawasan lebih luas, terbuka dengan ide-ide baru, dan embel-embel lainnya yang mendewakan lulusan luar negeri. Engga tuh ternyata. Sama aja kok. Sama aja kaya pemikirannya dengan redneck yang saya ilustrasikan di awal.
Bersikap baik lah terhadap salesman. Kalau memang tidak ada waktu, ambil brosurnya, kalau ada waktu, dengarkan dia bicara. We’re all sales people afterall. Be nice to other sales people won’t do you any harm.
Hmm.. kecuali mungkin terhadap tele-marketer.
(December 2006, the legendary Kelilink sales forces just started its marketing campaign for the 1st time)
Semua Menang, Semua Senang, Semua Senang Menang

Salah satu dari banyak definisi sempit tentang menang adalah mendapatkan apa yang kita inginkan dari seseorang. Kadang-kadang sesuatu yang kita inginkan, dapat menyakiti orang lain. Dan jika kasusnya seperti itu, terjadilah suatu pertarungan antara kita, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dan orang lain, yang ingin mempertahankan apa yang dimilikinya.
Itu adalah insting dasar setiap manusia. Insting primitif yang ada di tiap manusia, bahkan di mereka yang mengaku manusia paling modern sekalipun. Tidak ada satupun manusia yang suka kalah. Perasaan merasa kalah itu adalah sesuatu yang mengesalkan dan jika tidak dilampiaskan entah apa yang bisa terjadi. Masalahnya tidak selalu perasaan kesal itu bisa terlampiaskan dengan positif.
Misalnya, seseorang tertarik dengan seorang perempuan. Masalahnya, perempuan itu adalah pacar orang lain. Jika hal ini diteruskan, akan ada pihak yang terebut pacarnya dan pihak yang merebut pacar orang. Pihak yang menang dan pihak yang kalah.
Pola pikir kita pada umumnya adalah, di keadaan seperti ini, harus ada yang menang. Dan jika ada yang menang, otomatis ada pula yang kalah. Di keadaan yang ekstrim, hal seperti ini bisa berujung seperti kasus pembunuhan yang banyak kita tonton di TV.
Bisa tidak ya ada keadaan dimana 2 pihak yang berseteru itu sama-sama menang. Atau paling tidak, sama-sama merasa menang. Di contoh diatas, pihak yang merebut tentu saja merasa menang. Tapi pihak yang direbut pacarnya juga bisa merasa menang karena dengan segala pikiran positif, dia bisa saja berpikir sudah saatnya meninggalkan pacar yang tidak setia itu, atau bisa juga misalnya berpikir bahwa pacarnya itu akan membuat hidup orang yang merebut itu menderita.
Butuh dua unsur untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Yang pertama adalah kebesaran hati pihak yang kalah untuk bisa menerima dan mengambil sisi positif dari apa yang terjadi. Dan yang kedua adalah kemampuan dari pihak yang menang untuk bisa memenangkan kompetisi tanpa membuat yang kalah merasa kalah.
Seorang pendebat yang hebat dapat memenangkan suatu argumen tanpa membuat lawan bicaranya merasa kalah. Disini dia menawarkan suatu solusi yang bersifat win-win. Dan seorang pendebat yang LEBIH hebat lagi adalah mereka yang dapat menerima argumen lawan bicaranya jika memang hal itu terdengar lebih masuk akal.
(late April 2008, for the 99th time lost in words against that sweet baby)
Saturday, 3 November 2007
Menjadi Matahari

Matahari yang kita lihat sehari-hari bersinar menerangi bumi, bersinar tanpa lelah sepanjang siang sepanjang waktu. Matahari yang berjarak ratusan juta kilometer dari bumi kita itu selalu diam tanpa banyak ulah sambil tetap membagi panasnya untuk kehidupan di bawah sini. Orang yang susah bersyukur mungkin tidak akan pernah sadar tentang nikmat panas dan cahaya matahari yang diterima secara cuma-cuma itu.
Apa kita manusia bisa menjadi seperti matahari? Tanpa banyak komentar dan tanpa mengharap balasan apa-apa selalu berbuat baik untuk orang lain, selalu berusaha membuat hati mereka yang disekitar kita senang. Menjadi matahari yang menyinari sekitarnya.
Apa manusia bisa menyayangi dan mencintai seseorang tanpa mengharapkan hal yang sama dari seseorang tersebut. Apakah seseorang bisa melihat seseorang yang dipujanya bergandengan tangan berciuman dengan orang lain.
Mencintai disini berarti luas. Bukan hanya kepada pacar, tapi juga kepada teman, sahabat, dan keluarga. Kembali lagi, apa seseorang bisa selalu memiliki energi untuk tetap berbuat baik dan menyenangkan orang-orang disekitarnya yang terkadang tidak peduli untuk berbuat yang sama.
Kok rasanya tidak mungkin ya. Bayangkan sebesar apa hati yang dibutuhkan untuk sampai ke tingkatan bisa mencintai tanpa merasa harus dicintai balik. Bayangkan harus sedekat apa seorang manusia ke tuhannya untuk mencapai tingkatan itu.
Tingkatan menjadi matahari.
(late October 2007, farewell to a lovely friend, until we meet again!)
Sunday, 23 September 2007
Manusia Jakarta di Jalan Raya
Orang bilang, perilaku di jalan raya mencerminkan kebudayaan suatu bangsa. Bangsa yang besar dan maju, pengguna jalan rayanya sopan, sabar, dan mengikuti aturan. Sebaliknya bangsa yang kerdil dan terbelakang ,pengguna jalan rayanya ugal-ugalan, tidak peduli aturan, dan merasa jalanan itu punya bapaknya.
Sayang sekali… kategori nomer dua itu lah yang terlihat di Jakarta.
Coba lihat motor-motor yang tidak pernah mau memberi jalan. Tidak peduli mobil udah motong jalan lebih dari setengah masih aja berusaha terus melaju sampai minggir-minggir ke tepi asal dianya ga berenti. Mobil-mobil juga begitu, sama saja. Menyedihkan sekali pokoknya jalanan di Jakarta. Orang-orang primitif yang baru bisa nyetir motor/mobil. Mereka tidak mengenal sistem satu-satu, saling mengalah memberi jalan. Mereka tidak mengerti konsep itu.
Belum lagi motor-motor yang berjalan di sebelah kiri mobil, dan ketika mobil memberi lampu sen ke kiri dan membelokkan mobil ke arah kiri sedikit, motor-motor itu malah meng-klakson dengan nafsunya sambil melirik ke arah pengemudi mobil seolah-olah berkata “Dasar goblok, berani-beraninya belok kiri, ga tau ini jalan punya babe gue apa??”
Mau membahas bus dan angkot? Bisa makin sakit hati. Bayangkan saja, dengan ukurannya yang hampir sebesar mall itu, pengemudinya mengemudikan busnya seolah-olah dia berada di atas motor. Nyelip sana nyelip sini, tikung sana tikung sini, ngebut, dan tiba-tiba berhenti… di tengah jalan. Angkot? Hampir mirip, bedanya biasanya mereka selalu di pinggir jalan, lumayan lah walaupun tetap menyebalkan.
Taksi? Haha.. ini juga sama saja, mungkin karena mereka merasa berada di jalan hampir sepanjang hari, mereka merasa mengenal jalan itu diluar kepala dan merasa memiliki jalan, sayang merasa memiliki dalam artian yang tidak positif.Mereka TIDAK AKAN memberi jalan ke pengguna jalan lain. Pengecualian ke taksi-taksi yang ada penumpangnya di dalam.
Yang paling bikin miris dan tersenyum kecut adalah perilaku mobil-mobil pribadi yang di kendarai terlalu pelan, tapi begitu ada mobil di depan memberi lampu sen tanda ingin meminta jalan untuk masuk ke jalur mobil lambat itu, mobil itu segera menaikkan kecepatannya sembari membunyikan klakson dan memberi lampu dim. Kalau berhasil menghalau musuh yang datang dari sisi kanan/kiri itu dia akan tersenyum sambil kemudian kembali ke gaya menyetirnya yang lambat. Dan jika dia kecolongan dan jalurnya diambil, mukanya akan merengut sambil menyumpah serapah seolah inilah akhir dunia.
Oiya masih ada lagi, jika ada 1 mobil yang memberi jalan dan berlaku sopan (misalnya memulai pengereman ketika lampu lalu lintas sudah kuning) mobil-mobil dan motor-motor di belakangnya akan mengklakson dengan ganasnya karena mereka tidak terima ada orang yang lebih baik dari mereka. Pokoknya di jalanan Jakarta ini, tidak ada orang yang boleh sok berlaku baik! Itu prinsip dasar kebanyakan pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta.
Satu-satunya harapan adalah dari pengemudi yang berpendidikan tinggi, bapak-bapak kantoran bergaji tinggi dan bertitel keren, atau anak-anak muda SMA & kuliah yang idealis, berpandangan luas jauh kedepan, dan yang kadang-kadang tajir mampus yang untuk melewati weekend bisa clubbing di singapur, atau ibu-ibu socialite yang terbiasa keluyuran ke luar negeri. Di tangan mereka lah harusnya contoh berkendara yang baik bisa dilakukan… Harusnya… tapi sekali lagi… sayang sekali, teori hanyalah teori. Jika berada di jalan mereka akan berubah menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Keganasannya tidak kalah dengan preman terminal yang tidak punya rumah dan hidup dengan memalak supir-supir angkot. Mereka akan menjadi beringas di jalan raya, tidak mengindahkan peraturan dan sambil sesekali membuang sampah ke luar jendela!!!
Hehe.. Bahkan para kaum berpendidikan itu juga… Indonesia ku sayang, kapan nih mau majunya.
(Jakarta, some time early January 2007, trapped in the jungle called road)
Saturday, 15 September 2007
Do the Un-Possible

You wait for years hoping someone will change. Change to the way you want her to be, to satisfy your ego.
But why do you want someone to change? Why would you allow them to be in your life at the first place if you don’t like their attitude? Why bother push them to change? If you’re not comfortable with the way they are, then maybe he/she’s not your type, and definitely not for you.
And then a question rise, can someone really change? Old habit dies hard says the wise man. Maybe it is you who need to change. Be flexible; don’t wait for other to please you. Maybe it is you who need to adapt to someone’s way of life. Changing is something scary for most of us. You can only change if you are bigger than your appearance. Yet not many fits this condition.
If you can’t really change your view of seeing someone, or in other words you can’t change for other, then how do you really expect other to change for you.
It seems that change is not something you can enforce. Someone can say it out loud that he/she will change only for you. It won’t happen. Even if it does happen, what actually happen is that someone becomes something else that he/she feels remorse in doing it. When it’s not from the heart it’s just a matter of time before he/she returns to their old form.
Hence we come to the term “ikhlas”.
A friend told me, “ikhlas” is how you move on. Ikhlas/sincere/ingenuous means willingly accept something and it comes from the heart. Either you stay and ikhlas accepting her as it is OR you go out leave her and ikhlas seeing her with someone else. Broken heart is out of the question, regardless of which one you choose.
At the end of the day, it is an issue of let go or hold on.
(Badde Manors after Istikharah, mid September 2007)